telusur.co.id - Banjir yang terjadi di Kedungbanteng, Sidoarjo, Jawa Timur, ramai diperbincangkan di lini masa media sosial. Tak hanya soal peristiwa banjir tersebut, tetapi juga soal kunjungan para Bacabup dan Bacawabup dengan janji-janji politik untuk mengatasi persoalan tersebut.

Kedungbanteng yang menjadi titik pengeboran baru oleh Minarak Gas Brantas, hingga kini masih menjadi polemik warga sekitar. Minarak dituding sebagai penyebab banjir di wilayah tersebut, dengan dalih sebelum ada pengeboron dua desa Kedungbanteng dan Banjarasri tak pernah alami banjir dengan kurun waktu yang cukup lama.

Hal ini menjadi perhatian khusus oleh pemerintah setempat, dan menyita banyak simpatik dari para calon dalam Pilkada Sidoarjo 2020. Salah satu Bacabup, Kelana Aprilianto atau yang akrab disapa Mas Kelana ini juga tak luput dalam memberikan sumbangan berupa sembako kepada warga terdampak banjir yang dilakukan oleh tim pemenangannya. Rabu, (04/3/2020).

Pembagian sembako oleh tim Mas Kelana ini dirasa kurang pas ungkap (N), salah satu warga yang mendapatkan bantuan sembako tersebut. (N) mengatakan, dirinya serta warga korban banjir merasa jadi komoditas politik dalam Pilkada 2020 ini. 

“Jika memang ingin membantu, ya membantu saja, lagian yang dikasih juga cuma tiga mie instan dan kalender Bacabupnya, tidak usah memaksa kami untuk memasang kalender apalagi sampai ada kata, ojok lali coblosen rek (jangan lupa, mencoblos mas Kelana -red),” beber (N).

“Bukannya kami tidak bersyukur telah dibantu dengan diberikan sembako, menurut saya, bantuan tiga mie instan, dan satu buah kalender bergambar mas Kelana sangat tidak mencerminkan simpatik seorang Bacabup, malah cenderung mempolitisir korban banjir,” ujar (N).

Humas Minarak Gas Brantas, Iwan, menyayangkan persoalan banjir justru menjadi komoditas politik yang digunakan oleh masing-masing kubu untuk membela junjungannya atau menyerang lawan politik. Banjir tidak semestinya dijadikan politik mengingat masyarakat benar-benar sengsara akibat bencana ini.

“Warga diharapkan dapat sportif, dan saling mendukung dalam upaya penanganan banjir yang terjadi. Tidak elok menjadikan banjir sebagai komoditas politik. Ini saatnya untuk bersatu,” tegas Iwan. (ari)